MAAF MAS, SAYA SENGAJA MENABRAK MOTOR MAHALMU

MAAF MAS, SAYA SENGAJA MENABRAK MOTOR MAHALMU

Hujan sore itu (Jakarta, 17 Juni 2016 | 12 Ramadhan 1437 H)

Semua orang ingin cepat-cepat sampai di rumahnya. Apalagi aku, aku harus segera sampai di kampus tercinta untuk mengikuti perkuliahan. Semua perlengkapan sudah terpasang dengan baik. Dengan santai ku kendarai vespa tua kesayangan meninggalkan kantor yang berada di kawasan Jalan KH. Zainul Arifin, Jakarta. Satu kondisi Ibu Kota yang tidak bisa dihindari saat hujan adalah macet.

Disaat macet tersebut, ada salah satu motor yang menabrak vespa tua milikku. Aku diam dan berusaha sabar sembari ku lihat ke arah belakang melalui spion. Setelah beberapa saat berlalu, aku merasakan bahwa raga vespaku yang sudah tua ditabrak lagi untuk yang kedua kalinya. Aku berusaha sabar dan lagi-lagi aku hanya melihat ke arah belakang melalui spion. Tiba-tiba ingin marah rasanya, ketika melihat bahwa yang menabrak ini adalah orang yang sama dengan yang menabrak pertama tadi. Kemarahanku bukan karena vespaku ditabrak. Tapi karena sikap acuhnya seakan tidak merasa bersalah dengan hal itu.

Oke.. Akhirnya saya persilahkan dia berada di depan saya. Setelah dia berada didepan motor saya, dengan mengucap bismillah saya gas vespa tua saya yang akhirnya menabrak motornya yang mahal itu (ngga terlalu keras sih, cukup membalas dua tabrakan yang dia buat).

Sontak saja si pemilik (sebenernya bisa jadi bukan dia pemilik motornya, kalau masih kredit berarti motor itu masih milik leasing :D). Atau supaya saya tidak mendapatkan kritik, kita ganti saya kata “pemilik” dengan “pengendara”. Setuju ya? 😛

Setelah dia menengok ke belakang, segera saya katakan “MAAF MAS, SAYA SENGAJA MENABRAK MOTOR MAHALMU”. Mukanya yang tadinya merah karena marah menjadi ungu :D. “Kok bisa Pak? Kenapa?” desaknya dengan nada tinggi. “Mas tadi nabrak motor saya, nah makanya saya contohin kalau orang nabrak itu cepet-cepet minta maaf” kataku lembut. “Oh.. Iya Mas saya minta maaf, saya buru-buru” jawabnya dengan gugup. “Yaudah mas, silahkan dilanjutin, biasakan minta maaf kalau melakukan kesalahan” kataku dengan santun.

 Dedi Purnomo

Baiklah sahabatku, semua orang pernah melakukan kesalahan. Setuju ya? Pasti setuju. Yang terpenting adalah bukan kesalahan yang kita lakukan. Tapi bagaimana kita meminta maaf dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan dan dosa yang kita pernah lakukan.

Ditulis dengan perasaan hati yang biasa, tidak senang dan tidak sedih juga. Di Lab STMIK Widuri, Jakarta sesaat sebelum mengikuti matakuliah Pemrograman Web.

Dedi Purnomo

Saya seorang web developer, saya bisa membantu Anda membuat dan mengembangkan website serta merencanakan pemasaran online untuk usaha Anda. Untuk lebih lengkap silahkan klik Jasa Pembuatan Website Murah

Post Comment