Teman Datang Saat Butuh adalah Rejeki dari Allah

Mungkin diantara kita seringkali melihat status yang berlalu-lalang menunjukkan kekesalan hati ketika ada teman yang hanya datang dan ingat ketika butuh bantuan. Sering ya? Biasanya mereka bilang gini,”pas susah aja inget, pas seneng kemana aja?” atau “Datang pas susah giliran senang lupa. Manusia macam apa ??” atau “Ya ayolah mohon dengan sangat jangan datang pas susah tapi bahagianya sama yang […]

Sarjana Bukan Tujuan

Catatan ini adalah untuk pengingatku, tahun 2017 ini, seharusnya aku mendapatkan gelar sarjana di bidang komputer. Sudah sempat bimbingan dan menyunsun skripsi dan membuat sebuah program sebagai salah satu syarat maju ke sidang skripsi.

Tetapi saya tidak mengajukan skripsi saya. Kenapa? karena saya tidak sepenuhnya menguasai pembuatan program itu. Dimana pembuatan program itu dibantu oleh teman saya. Sehingga saya tidak merasa puas dengan hasil yang saya capai.

Emang kenapa ngga bisa bikin program aplikasi sendiri?

Iya, ini pertanyaan yang sangat baik. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Saya tidak akan menyalahkan siapapun. Tetapi saya sendirilah yang salah. Tidak belajar dengan baik. Beginilah jadinya. Kesulitan ketika harus membuat sebuah program aplikasi.

Tapi kan sebenarnya bisa tetap mengajukan skripsi, meskipun program aplikasinya dibantu orang lain?

Benar sekali. Tetapi ada hal yang sangat sayang untuk saya lewatkan jika harus memaksakan diri untuk mengikuti sidang skripsi. Semangat belajar. Kehilangan semangat belajar inilah yang sebetulnya sangat saya takutkan. Betapa banyak contoh seseorang yang sangat semangat belajar ketika mengerjakan skripsi namun setelah itu selesai tak lagi semangat belajar dan justru menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat?

Terus, kapan target mendapat gelar sarjana?

Bro, gelar sarjana bukan tujuan. Kalau target sarjana yang menjadi tujuan, entah bagaimana caranya yang penting jadi sarjana. Ngga peduli papernya dibikinin orang lain ataupun copas, yang penting jadi sarjana. Ngga peduli programnya dibikinin orang atau hasil nyomot dari internet yang penting jadi sarjana. Ngga peduli paham materi atau tidak, yang penting jadi sarjana.

Coba kita perhatikan orang yang menjadikan sarjana sebagai tujuan. Ya itu, setelah jadi sarjana bingung mau ngapain. Bingung mau kerja apa? Kalaupun bisa kerja, kebanyakan kerja tidak sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus. Ini kan lucu. Empat tahun mengasah gergaji tetapi ketika kerja menggunakan pisau yang tidak diasah. Ini menyedihkan bukan? Untuk apa gergaji yang telah diasah selama empat tahun itu? 

Ini bahan koreksi kita bersama.

Memang benar bahwa seseorang tidak harus bekerja sesuai dengan apa yang ia pelajari. Semua sudah digariskan. Saya setuju. Tetapi tujuan kita diciptakan ini bukan hanya tentang bagaimana bahagia. Lebih dari itu adalah bagaiaman kita bisa membagi kebagiaan itu. 

Lihat !, orang yang menjadikan ilmu sebagai tujuan, walaupun tidak sempat menjadi sarjana, dia bisa menjadi orang yang berguna untuk keluarga dan masyarakat. Melakukan perubahan bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga lingkungan. Berapa banyak orang yang drop out dari kampus namun sukses dengan ilmu yang dimilikinya. Perlu disebutkan contohnya? Ah.. Saya rasa tidak perlu. Terlalu banyak artikel yang menceritakan kisah-kisah mereka.

Dan disini letak keistimewaannya. Orang yang membagikan ikan tidak semenarik orang yang membagikan kail lalu mengajari orang lain bagaiamana mencari ikan dengan kail yang telah ia berikan.

Jangan lupa share, agar orang-orang yang kuliah hanya untuk mendapat gelar sarjana segera tobat !!

Ditulis pada 04 Februari 2017 dan sudah pernah diposting di Facebook.

Update 4 Februari 2019 – Sarjana Bukan Tujuan

Kemaren (02 Februari 2019) pas lagi ngisi pelatihan membuat website di suatu sekolah di Bekasi, saya memotivasi mereka agar tidak sekedar mencari ijazah. Lalu ada murid yang nanya gini:

“Pak, kata mama saya ijazah itu penting” tanya salah seorang murid.

“Iya nak, benar. Ijazah penting bagi orang yang ngga punya ilmu. Kalau kamu punya ilmu, dan kamu bisa membuktikan ilmu yang kamu punya, bisa menganalisa kelemahan suatu perusahaan dan bisa memberikan solusi dari kelemahan itu, perusahaan ngga akan nanya kamu lulusan mana. Makanya di sekolah ini kamu jangan cari ijazah, tapi carilah ilmu!”

“Ooh gitu ya Pak?”, katanya masih bingung.

“Saya bisa ngomong dan diundang sekolah kalian ini apa karena ijazah saya? Bukan! Bahkan sekolah kalian sama sekali tidak menanyakan saya lulusan mana. Mereka membaca blog saya dedipurnomo.com, mereka membuat website untuk sekolah kalian ini, lalu mereka ingin saya menularkan sedikit keahlian saya tentang website kepada kalian.”

Alhamdulillah, mereka semakin semangat belajar untuk mencari ilmu, bukan ijazah!

Boleh di share, biar orang-orang yang sekolah atau kuliah hanya dengan niat mencari ijazah bisa sadar bahwa yang mereka lakukan itu kurang tepat.

 

PENTINGNYA PEMBANGUNAN KUALITAS MENTAL DAN KARAKTER

Pembangunan infrastruktur memang sangat penting. Tapi yang tidak kalah jauh lebih mendesak adalah pembangunan sikap dan mental masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Dimana pembangunan ini merupakan pembangunan jangka panjang yang apabila diabaikan akan membuat masa depan bangsa ini semakin terpuruk. Banyak sekali pemimpin kita yang berusaha membangun jalan, jembatan, dan sebagainya untuk mendongkrak laju […]