Posts in Pola Pikir

Sesuaikan dengan Kebutuhan Kita

Sesuaikan dengan kebutuhan kita. Kalau kerja bisa pake hp, kenapa harus pakai laptop? Menyederhanakan dan merampingkan tools tidak selalu buruk. Bisa jadi itu adalah solusi yang selama ini dibutuhkan. 

Seperti makan..
Selama ini saya pikir pola makan 3x sehari itu ideal dan bagus. Tapi ternyata ada teman saya yang makan (berat) 1 kali sehari tapi justru badannya menjadi ringan dan sehat. Tentu ini harus tahu polanya dulu. Karena ini berhubungan dengan pengaturan pola hidup. Berhubungan dengan olahraga, istirahat dan yang lainnya. 

Prinsipnya adalah sesuaikan dengan kebutuhan. 

Bahkan dalam makan pun, bukankah kita diajarkan bahwa makan itu adalah untuk menegakkan tulang punggung? 
Lihatlah bagaimana tuntunan yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)

Jadi sekali lagi, penyederhanaan bukan berarti buruk. Bisa jadi itu adalah solusi.

Termasuk untuk teman-teman yang kepengen bisa bikin website tapi ngga punya laptop. Ternyata bisa kok pakai hp. Saya sudah buat tutorialnya Cara Bikin Website Lewat HP Android – Gratis, Mudah dan Cepat.

Baca: Nekat banget nih orang! BIKIN Website dan Kelola Toko Online Pake HP

Terima kasih sudah membaca sampai di sini. Semoga bagi yang saat ini sakit bisa cepat sembuh dengan merubah sedikit pola makan kita. Juga bagi yang sudah sehat, semoga kita dimampukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjaga kesehatan kita dan memanfaatkannya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sahabatmu, 
Dedi Purnomo

Syarat Menjadi Guru Profesional

Diartikel syarat menjadi guru profesional ini saya ingin menuliskan sedikit unek-unek (opini) saya berkaitan dengan dunia guru.

Sebelumnya saya berterima kasih kepada para guru yang telah mengajarkan kepada saya ilmu atau pelajaran-pelajaran yang bisa saya manfaatkan untuk menjalani kehidupan di dunia ini.

Saya juga meminta maaf kepada seluruh guru yang membaca tulisan ini jika banyak kalimat atau ucapan yang kurang berkenan. Terutama kepada Persatuan Guru Republik Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia, dan Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

Tulisan ini bersifat opini yang diambil dari pengalaman saya pribadi ketika berada di dalam kelas. Jika ada yang memiliki opini lain terkait tulisan ini, bisa kita diskusikan melalui komentar.

Pengertian Guru

Kalau kita melihat pengertian guru di Wikipedia, bahwa guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.

Untuk jenis-jenis guru, di Wikipedia disebutkan ada guru tetap & guru honorer. Saya tidak akan membahas dua jenis guru ini. Karena yang akan saya bahas di artikel “syarat menjadi guru profesional” ini adalah jenis guru yang sering diistilahkan dengan guru akademisi dan guru praktisi.

Mari kita bahas..

Guru Akademisi dan Guru Praktisi

Sederhananya, guru akademisi adalah guru yang memperhatikan penyampaian materi perkuliahan dengan teori-teori dan hasil riset para ahli. Ketika di kelas, biasanya mereka sering mengutip teori-teori atau perkataan para ahli dengan data-data yang tersusun rapi.

Sedangkan guru praktisi adalah guru yang lahir dari pengalaman setelah dia melaksanakan atau mempraktikkan ilmu yang dia pelajari. Misalnya adalah pemimpin sebuah perusahaan, pelaku usaha dan lain sebagainya.

Siapa yang lebih baik dan lebih profesional dari keduanya?

Baik, saya ingin cerita sedikit ya,

Saya pernah duduk dengan dosen akademisi dan dosen praktisi. Adapun dosen akademisi sangat banyak di kampus tempat saya belajar. Namun untuk dosen praktisi, seingat saya hanya dua orang saja.

Dosen praktisi ini jarang memberikan teori-teori dari para ahli, namun mereka sering memberikan tips-tips singkat yang sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam dunia pekerjaan. Salah satunya adalah dosen kami, JF Andry yang merupakan IT Trainer dari sebuah perusahaan IT di Jakarta.

Kalau ditanya, lebih asik mana dari kedua dosen ini? Maka saya akan menjawab bahwa duduk di kelas guru praktisi jauh lebih asik. Tapi mau tidak mau, sebagai seorang murid, kita juga butuh teori-teori yang disampaikan oleh guru akademisi.

Jadi gimana dong?

Gini, kita ambil jalan tengahnya deh. Bahwa syarat menjadi guru profesional adalah seorang akademisi yang juga merupakan praktisi. Bagaimana? Setuju?

Ini juga yang disebutkan oleh Nur Fitriana Sholikhah dalam website duniadosen.com. Judul artikelnya adalah Dosen Akademisi Itu Penting, Dosen Praktisi Melengkapi. Silahkan dibaca. Ini bagus.

Perjalanan Kisah Saya Menjadi Seorang Guru

Sebelumnya, saya merupakan seorang pencari rumput dan penggembala kambing di desa, atas karunia Allah sekarang menjadi seorang guru komputer dan guru membuat website di salah satu pesantren di Bekasi.

Saya dipercaya untuk mengajar SMA dan SMP di pesantren ini bukan karena saya mempunyai gelar sarjana. Buktinya sampai sekarang saya belum ditanya lulusan apa. Hehe..

Bagaimana saya bisa mengajar website di pesantren? Ceritanya pihak pesantren membutuhkan website. Lalu singkat cerita dia bertemu dengan saya dan saya sepakat untuk membuatkan website untuk pesantren tersebut.

Setelah saya membuat website untuk pesantren ini, mereka membaca presentasi yang saya sampaikan melalui tulisan-tulisan di website ini, mungkin mereka melihat bahwa sepertinya saya mampu untuk mengajarkan ilmu cara membuat dan mengelola website agar website itu ramai pengunjung.

Sebenarnya saya takut untuk mengajarkan ilmu ini kepada mereka. Saya takut kalau ilmu yang saja ajarkan ini justru membuat mereka sibuk dan lalai dari belajar ilmu agama.

Saya ingat dahulu salah satu teman saya yang belajar di pesantren pernah berkata, bahwa dia tidak ingin belajar agama sambil belajar yang lain. Karena apabila ada kesalahan didalam dia memberikan tausiah atau ceramah agama atau hukum tentang Islam dan seterusnya maka pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia bahkan yang lebih berat ada pertanggungjawaban di akhirat.

Tetapi pihak dari sekolah itu memang membutuhkan agar para siswanya mempunyai keahlian tentang website terutama membuat dan mengelola website itu.

Akhirnya dengan pertimbangan bahwa semoga ilmu tentang website ini bisa mereka gunakan untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, saya memutuskan untuk menyanggupi mengajar hal-hal yang berkaitan dengan website.

Nah, jika Anda perhatikan, bahwa untuk menjadi guru itu tidak melulu kuliah dijurusan keguruan. Bahkan terkadang sekolah-sekolah itu tidak melihat pendidikan kita. Selama kita mampu dan bisa mengerjakan apa yang mereka inginkan, itu cukup meyakinkan untuk mereka bahwa kita bisa mengajarkan kepada para siswanya tentang apa yang kita geluti.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita meyakinkan mereka bahwa kita bisa mengerjakan apa yang mereka inginkan.

Kalau yang saya lakukan adalah dengan membuat tulisan atau menampilkan portofolio melalui website.

Dengan seperti ini, orang-orang di luar sana akan melihat dan membaca bahwa kita mempunyai kemampuan pada bidang yang sering kita tulis.

Jika sudah seperti ini dan mereka sudah yakin dengan kemampuan kita, mereka tidak akan bertanya lagi background pendidikan kita.

Selama kita mampu untuk itu dan kita pun menunjukkan portofolio kita, maka mereka akan yakin bahwa kita mampu mengajarkan itu kepada para siswanya.

Contoh, jika teman-teman mempunyai suatu keahlian mengoperasikan photoshop. Kemudian temen-temen mempunyai karya yang karya itu dipublish melalui website dan disana temen-temen banyak menulis tips dan trik mengenai cara membuat gambar atau desain.

Bagi sekolah yang membutuhkan guru desain untuk para siswanya dan mereka menemukan website teman-teman, mereka tidak akan berpikir berulang kali untuk menjadikan teman-teman sebagai guru desain di sekolahnya.

Contoh lain, ketika Anda mempunyai satu keahlian menjahit baju. Lalu Anda senang berbagi, menuliskannya melalui website. Bagi orang-orang yang ingin belajar menjahit dan menemukan website Anda, mereka akan menghubungi Anda untuk menjadi murid Anda.

Lihatlah, ada 10rb-100rb orang yang mencari di google dengan kata kunci “menjahit baju” Anda bisa menjadi guru menjahit secara online dengan video bukan?

Atau jika kita lihat di Google Keyword Planner, banyak sekali orang yang ingin belajar bahasa. Lihat data di bawah ini:

Lihatlah, ada 100rb-1jt orang setiap bulannya yang mengetikkan “Belajar bahasa Inggris” di Google.

Bayangkan kalau mereka menemukan website Anda yang banyak berbagi tentang tips dan trik belajar bahasa inggris. Atau Anda juga bisa menjual video tutorial belajar bahasa inggris. Anda akan menjadi guru online yang profesional tanpa harus mengajar di kelas secara langsung.

Bukankah syarat menjadi guru profesional tidak harus di dalam kelas? Bukankah di taman ataupun secara online juga bisa menjadi seorang guru yang profesional?

Perbedaan Website Murah 100rb dengan 70jt

Sesuai dengan judulnya, pada kesempatan kali ini saya akan membahas “Perbedaan Website Murah 100rb dengan 70jt“. Sebenarnya mahal ngga sih beli website dengan harga 10jt? Kemudian murah ngga sih kalau ada orang yang membuka jasa pembuatan website namun harganya sangat rendah. Misalnya 100Rb misalnya. Read More

Teman Datang Saat Butuh adalah Rejeki dari Allah

Mungkin diantara kita seringkali melihat status yang berlalu-lalang menunjukkan kekesalan hati ketika ada teman yang hanya datang dan ingat ketika butuh bantuan. Sering ya?

Biasanya mereka bilang gini,”pas susah aja inget, pas seneng kemana aja?” atau “Datang pas susah giliran senang lupa. Manusia macam apa ??” atau “Ya ayolah mohon dengan sangat jangan datang pas susah tapi bahagianya sama yang disana, jadi pengen nyebut nama hewan deh.” atau “Datang Pas Susah!!Pulang PasSeneng!!Hidup Teu. sangenah Kituu Kawan.” dan masih banyak lagi, kalau ngga percaya cari aja di facebook. Masukin di kolom pencarian “

Datang pas susah aja -pola pikir dedi purnomo

Sebenarnya prihatin juga sih, bukan pada orang yang datang hanya disaat butuh tapi pada mereka yang justru mengeluh ketika ada teman ataupun saudara yang datang meminta bantuan.

Karena seharusnya kita senang ketika ada seseorang yang datang kepada kita dan meminta bantuan. Kenapa begitu? Karena Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat baik kepada saudara atau teman kita. Dan dengan mendatangkan orang yang butuh bantuan kepada kita artinya Allah memilih kita untuk berbuat baik dan tidak memilih orang lain selain kita. Adakah yang lebih menggembirakan selain dimampukan untuk berbuat baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Maka teman, mulai sekarang sambut baik teman-teman kita yang datang kepada kita untuk meminta bantuan meskipun mereka hanya datang pada saat mereka membutuhkan dan pergi ketika sudah tidak membutuhkan.

Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika ada teman atau saudara yang menjauh, yang lupa saat mereka tidak membutuhkan kita?

Ya sebaiknya kita berprasangka baik kepada mereka. Mungkin mereka benar-benar sibuk atau mungkin mereka mempunyai satu urusan yang memang membutuhkan waktu sangat banyak sehingga mereka belum sempat menghubungi kita. Kita tidak tahu apa yang sedang dihadapi sahabat kita. Maka setelah berprasangka baik alangkah baiknya juga kita menanyakan kabarnya, kesibukan apa yang sedang dikerjakan, atau hal-hal lain yang sebaiknya dicari tahu tentang kondisi teman atau sahabat kita.

Atau mungkin mereka tidak menghubungi kita itu karena mereka merasa malu dengan keadaan mereka yang kekurangan. Tidak semua orang bisa menerima dan siap menunjukkan keadaan yang sebenarnya mereka alami. Dengan kata lain teman atau sahabat ataupun saudara kita itu minder dengan keadaan mereka. Hal ini wajar karena sebagai seorang manusia kita tidak ingin teman, sahabat ataupun saudara kita merasakan kesedihan seperti yang kita rasakan.

Hal ini pun yang sering kali saya temukan dalam diri saya bahwa saya tidak menghubungi teman, sahabat ataupun keluarga itu karena malu karena kita masih kekurangan dalam hal materi. Yang sebenarnya ini juga tidak perlu untuk kita rasakan atau kita pikirkan. Memang butuh kekuatan agar bisa menyampingkan hal ini. Semoga kita semua dimampukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk dapat menyambung ukhuwah kepada teman-teman kita dan menyambung tali silaturahim kepada saudara-saudara kita.

Kalau ada temenku yang datang hanya saat butuh, maka ini cukup membuatku lebih semangat untuk belajar. Agar dibutuhkan dan bisa banyak memberi manfaat kepada temen-temen yang memang membutuhkan bantuan.

Do’ain ya, semoga Allah menitipkan ilmu yang dengannya kita bisa membantu orang lain.

Catatan akhir tahun 2017.

Update: Januari 2019
Alhamdulillah di Januari 2019, saya mendapatkan tambahan ilmu yang sangat bermanfaat. Yaitu tentang contoh untuk berprasangka baik kepada teman-teman kita yang hanya datang kepada kita ketika kita senang dan menjauh dari kita ketika kita sedang kesulitan. Begini kisahnya:

Suatu ketika istri Talhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf berkata kepadanya, “Wahai suamiku, aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih buruk daripada teman-temanmu itu.” Kata suaminya, “Kenapa begitu? Kamu tidak boleh berkata seperti itu terhadap mereka. Memang keburukan mereka itu apa?” Istrinya berkata, “Sudah jelas kok keburukan mereka.” Suaminya berkata, “Apa itu?” Istrinya berkata, “Teman-temanmu itu, kalau kamu lagi enak, lagi senang, lagi banyak rezeki, mereka datang sama kamu. Tapi ketika kamu susah mereka malah meninggalkan kamu. Itu kan berarti teman-teman kamu buruk sekali.” Suaminya berkata, “Justru itu kebaikan akhlak mereka.” Istrinya berkata, “Kok seperti itu akhlak yang baik?” Suaminya berkata, “Disaat kita senang, kita dapat banyak rezeki mereka datang, itu Alhamdulillah. Berarti kita mempunya kemampuan untuk menghormati dan menjamu mereka. Ketika kita susah, mereka tahu bahwa kita tidak bisa menjamu mereka dan mereka tidak mau menyusahkan kita.”

Masya Allah, inilah contoh daripada husnudzon kepada teman-teman kita.

Kisah ini ada dalam kitab Raudhatul ‘Uqala wa Nuzatul Fudhala karya Imam Ibnu Hibban.

Pencarian: Teman datang saat butuh, kata kata untuk Teman datang saat butuh, Saat susah Teman datang saat butuh, kata kata untuk Teman datang saat butuh, Teman datang saat butuh ya 

Kenali Diri Kita

Tidak semua orang yang naik motor tau tentang mesin motor. Setuju? Seringkali dia merasakan motornya tidak ada masalah, seakan semua baik-baik saja. Tiap hari dipakai, tiap hari dikendarai, tiap hari membantu menghantarkannya ke tempat yang ingin dia tuju. Ini berbahaya. Karena bisa jadi, suatu hari motornya akan rusak parah sehingga aktifitasnya terhambat.

 

Baiklah. Bagaimana agar hal ini tidak terjadi?

Service berkala? Yup.. Tanyakan kepada orang yang mengerti tentang mesin motor kita. Dialah BENGKEL. Bahkan ketika kita berfikir semua baik-baik saja.

 

Coba kita tarik kasus tersebut kedalam kehidupan kita. Orang yang merasa sudah benar tidak akan pernah menjadi benar. Maka itu, untuk menjadi benar, kita harus tahu kesalahan kita. Lalu bagaimana kita bisa tahu kesalahan dan kekurangan diri kita? Sehingga kita bisa segera memperbaiki yang pada akhirnya keburukan kita tidak merugikan kita sendiri dikemudian hari.

 

Inilah kita-kiatnya:

  1. Datang ke orang alim, ustadz yang bisa memberikan arahan, sering-sering meminta nasihat.
  2. Carilah teman yang mencintai kita dengan tulus, yang sering mengkoreksi dan menasihati kita secara baik dan rahasia.
  3. Dengarkan ucapan orang yang tidak suka dengan kita. Merekalah yang sangat tahu kekurangan kita. Dengarkan agar dapat kita gunakan sebagai bahan intropeksi diri.
  4. Hidup bergaul dengan orang sehingga kita bisa mengambil nilai-nilai kebaikan.

Semoga bermanfaat dan dapat membuat akhlak kita menjadi baik. Mohon diingatkan, mohon dimaafkan atas segala kesalahan.

BUKAN PEDANG MUSUHMU YANG TAJAM, TAPI TAMENGMULAH YANG RAPUH

Setiap orang pasti pernah gagal, setiap orang pasti pernah jatuh. Itu wajar. Karena kesatria bukan berarti yang tidak pernah kalah. Kesatria bagiku adalah yang tidak menyalahkan musuhnya ketika kalah.

Aku baru sadar tentang hal ini. 

 

Nyatanya, menyalahkan orang lain atas kegagalan kita adalah kesalahan. Hal ini tidak akan mendewasakan kita. Hal terbaik ketika kalah adalah menyalahkan diri sendiri, mengakui kelemahan diri lalu berjuang untuk memperbaiki kelemahan itu.

 

Kita tidak bisa menyalahkan pedang musuh yang terlalu kuat, sehingga kita tertebas, tergilas. Salahkan diri kita sendiri yang tidak mahir menangkis pedangnya. Atau akui saja bahwa memang tameng kita yang tidak kokoh sehingga tidak bisa menangkis pedang musuh.

 

Kita tidak bisa menyalahkan lalu menghujat dan menebar kebencian kepada semua orang agar membenci musuh kita yang telah melakukan kecurangan demi menghancurkan kita. Biar saja. Kitalah yang salah karena lengah sehingga tidak tau dengan tipu daya musuh.

Semua kesalahan terletak pada kita.

 

 


Ya ngga bisa gitu juga. kita harus mendapatkan keadilan dong. Tuntut !! 

Hehe… Iya betul, saya setuju dengan hal itu. Sangat setuju. Tetapi semestinya kita tahu. Di dunia ini, tidak selamanya orang baik mendapatkan perlakuan baik. Tidak semua orang yang buruh mendapat perlakuan yang buruk.

Disinilah diperlukannya sebuah iman. Iman kita kepada surga dan neraka. Bukankah neraka adalah pengadilan yang paling adil yang telah Allah siapkan untuk orang-orang yang terbebas dari hukuman dunia? Bukankah surga adalah adalah sebaik-baik balasan bagi orang baik yang tidak mendapatkan balasannya di dunia?

Bro, dari sini kita paham bahwa menang dan kalah bukan penyebab ketenangan dalam hati. Tetapi iman. Keadaan boleh tidak seperti yang kita inginkan. Tetapi selama iman bertahta dalam hati, ketenangan tidak akan pernah pergi.

 


Pernah mendengar kata-kata “daun yang jatuh tidak pernah membenci angin”? Ya itu, Tere Liye memahami betul bahwa kesatria yang sejati bukan mereka yang tidak pernah jatuh. Tetapi kesatria adalah yang berani mengakui bahwa kesalahan ada pada dirinya dan dia siap memperbaiki kesalahan itu.

 

Salam..

KAMU SERIUS NGGA SIH?

Pernah mengucapkan kalimat ini? Terutama untuk para wanita.. Jika pernah, saya katakan bahwa ini pertanyaan SIA-SIA!!

 

Kenapa? karena orang yang tidak serius pun akan mengatakan bahwa dia serius.  miris kan?

 

Sudah berapa kali bertemu dengan yang tidak serius? Berapa kali dipermainkan? Berapa kali ingin bertemu yang serius tapi nyatanya ditinggalkan? lalu kamu mencela dan MENYALAHKAN dia karena ternyata dia hanya memberikan harapan palsu.

 


Tenang, jangan terburu-buru menyalahkan dia. Karena kenyataannya kita lah yang salah. “Loh? Kok kita yang salah? kan dia yang ninggalin kita?”

 

Santai sist, jangan protes dulu. Begini loh. Jika dia meninggalkan kita, jika dia tidak serius dengan kita, pertanyaannya bukan kenapa dia meninggalkan kita. Tapi kenapa orang yang tidak serius bisa mendekat dan tertarik dengan kita? Itu yang harus dijawab.

  • Jika ada orang yang mendekat hanya tertarik dengan harta kita, mungkin itu karena kita terlalu memamerkan harta kita to?
  • Jika ada orang yang mendekat hanya karena tertarik dengan kecantikanmu (bukan kita, karena aku ngga canti  ), mungkin itu karena kamu terlalu menampakkan kecantikanmu to?
  • Jika ada orang yang mendekat hanya tertarik dengan fisik kita, mungkin itu karena kesalahan kita mengumbar fisik kita yang seharusnya kita tutupi to?

.

Dan mirisnya, mereka semua yang TIDAK serius itu akan menjawab bahwa dia serius ketika ditanya “KAMU SERIUS NGGA SIH?”

Kesalahannya pada siapa? Pada dirinya? BUKAN !! Kesalahannya pada diri kita ! Nyatanya, kita sendiri yang mengundang orang-orang yang tidak serius itu untuk mendekat.

Nah.. Sekarang udah tau, udah pinter. Tau mana yang diperbaiki?! Jangan buat orang lain yang tidak serius itu tertarik dengan kita. Gimana caranya? Ya jangan mengundang perhatian mereka.

Bila perlu pake cadar buat yang akhwat biar laki-laki hidung belang ngga tertarik sekalian. Aman kan? ngga buang-buang waktu ngeladenin orang yang ngga serius? 

 

Salam..

Sarjana Bukan Tujuan

Catatan ini adalah untuk pengingatku, tahun 2017 ini, seharusnya aku mendapatkan gelar sarjana di bidang komputer. Sudah sempat bimbingan dan menyunsun skripsi dan membuat sebuah program sebagai salah satu syarat maju ke sidang skripsi.

Tetapi saya tidak mengajukan skripsi saya. Kenapa? karena saya tidak sepenuhnya menguasai pembuatan program itu. Dimana pembuatan program itu dibantu oleh teman saya. Sehingga saya tidak merasa puas dengan hasil yang saya capai.

Emang kenapa ngga bisa bikin program aplikasi sendiri?

Iya, ini pertanyaan yang sangat baik. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Saya tidak akan menyalahkan siapapun. Tetapi saya sendirilah yang salah. Tidak belajar dengan baik. Beginilah jadinya. Kesulitan ketika harus membuat sebuah program aplikasi.

Tapi kan sebenarnya bisa tetap mengajukan skripsi, meskipun program aplikasinya dibantu orang lain?

Benar sekali. Tetapi ada hal yang sangat sayang untuk saya lewatkan jika harus memaksakan diri untuk mengikuti sidang skripsi. Semangat belajar. Kehilangan semangat belajar inilah yang sebetulnya sangat saya takutkan. Betapa banyak contoh seseorang yang sangat semangat belajar ketika mengerjakan skripsi namun setelah itu selesai tak lagi semangat belajar dan justru menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat?

Terus, kapan target mendapat gelar sarjana?

Bro, gelar sarjana bukan tujuan. Kalau target sarjana yang menjadi tujuan, entah bagaimana caranya yang penting jadi sarjana. Ngga peduli papernya dibikinin orang lain ataupun copas, yang penting jadi sarjana. Ngga peduli programnya dibikinin orang atau hasil nyomot dari internet yang penting jadi sarjana. Ngga peduli paham materi atau tidak, yang penting jadi sarjana.

Coba kita perhatikan orang yang menjadikan sarjana sebagai tujuan. Ya itu, setelah jadi sarjana bingung mau ngapain. Bingung mau kerja apa? Kalaupun bisa kerja, kebanyakan kerja tidak sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus. Ini kan lucu. Empat tahun mengasah gergaji tetapi ketika kerja menggunakan pisau yang tidak diasah. Ini menyedihkan bukan? Untuk apa gergaji yang telah diasah selama empat tahun itu? 

Ini bahan koreksi kita bersama.

Memang benar bahwa seseorang tidak harus bekerja sesuai dengan apa yang ia pelajari. Semua sudah digariskan. Saya setuju. Tetapi tujuan kita diciptakan ini bukan hanya tentang bagaimana bahagia. Lebih dari itu adalah bagaiaman kita bisa membagi kebagiaan itu. 

Lihat !, orang yang menjadikan ilmu sebagai tujuan, walaupun tidak sempat menjadi sarjana, dia bisa menjadi orang yang berguna untuk keluarga dan masyarakat. Melakukan perubahan bukan hanya untuk dirinya sendiri namun juga lingkungan. Berapa banyak orang yang drop out dari kampus namun sukses dengan ilmu yang dimilikinya. Perlu disebutkan contohnya? Ah.. Saya rasa tidak perlu. Terlalu banyak artikel yang menceritakan kisah-kisah mereka.

Dan disini letak keistimewaannya. Orang yang membagikan ikan tidak semenarik orang yang membagikan kail lalu mengajari orang lain bagaiamana mencari ikan dengan kail yang telah ia berikan.

Jangan lupa share, agar orang-orang yang kuliah hanya untuk mendapat gelar sarjana segera tobat !!

Ditulis pada 04 Februari 2017 dan sudah pernah diposting di Facebook.

Update 4 Februari 2019 – Sarjana Bukan Tujuan

Kemaren (02 Februari 2019) pas lagi ngisi pelatihan membuat website di suatu sekolah di Bekasi, saya memotivasi mereka agar tidak sekedar mencari ijazah. Lalu ada murid yang nanya gini:

“Pak, kata mama saya ijazah itu penting” tanya salah seorang murid.

“Iya nak, benar. Ijazah penting bagi orang yang ngga punya ilmu. Kalau kamu punya ilmu, dan kamu bisa membuktikan ilmu yang kamu punya, bisa menganalisa kelemahan suatu perusahaan dan bisa memberikan solusi dari kelemahan itu, perusahaan ngga akan nanya kamu lulusan mana. Makanya di sekolah ini kamu jangan cari ijazah, tapi carilah ilmu!”

“Ooh gitu ya Pak?”, katanya masih bingung.

“Saya bisa ngomong dan diundang sekolah kalian ini apa karena ijazah saya? Bukan! Bahkan sekolah kalian sama sekali tidak menanyakan saya lulusan mana. Mereka membaca blog saya dedipurnomo.com, mereka membuat website untuk sekolah kalian ini, lalu mereka ingin saya menularkan sedikit keahlian saya tentang website kepada kalian.”

Alhamdulillah, mereka semakin semangat belajar untuk mencari ilmu, bukan ijazah!

Boleh di share, biar orang-orang yang sekolah atau kuliah hanya dengan niat mencari ijazah bisa sadar bahwa yang mereka lakukan itu kurang tepat.

 

KITA TIDAK MAMPU, TENANG! ALLAH MAHA MAMPU

Kalimat yang saya gunakan sebagai judul ini sering sekali saya dengarkan, tapi ya hanya kalimat. Biasa saja, tidak pernah saya hiraukan bahkan tidak membekas dan tertanam kuat di dalam hati. Hingga suatu ketika, tepatnya pada Januari 2016 lalu, kalimat itu keluar dari mulut wanita terindah yang Allah anugerahkan untukku, dialah ibu.

Singkat cerita, pada Januari 2016 lalu, saya mengabarkan kepada beliau bahwa Allah sudah menolong dan memberikan kekuatan kepada saya untuk meninggalkan kebiasaan buruk merokok. Kabar ini beliau sambut dengan syukur kepada Allah seraya mengucapkan “Alhamdulillah, Allah telah mengabulkan do’a ibumu”. Sejenak saya penasaran dengan do’a apa yang ia panjatkan?. Setelah saya tanyakan ternyata dia berdo’a kepada Allah agar suami dan anak laki-lakinya mampu meninggalkan kebiasaan buruk merokok tersebut.

 

Kalimat yang sangat membekas dan tertanam kuat di hati saya adalah ketika ibu mengatakan “Ibu kan perempuan, kalau ibu yang berusaha merubah kalian (saya dan bapak), capek ibu. Pasti ngga didengerin. Tapi ibu yakin kalau Kita tidak mampu, Allah maha mampu!Kalau Allah yang menggerakkan, pasti enteng, pasti selesai, pasti baik.” Begitu kata ibuku sambil menangis. Kabar yang paling menggembirakan saya adalah ternyata Bapak saya juga diberi kekuatan oleh Allah untuk berhenti dari kebiasaan buruk merokok itu setelah mendengar saya berhenti merokok.

 

Allah Maha Mampu

Bergetar tubuh ini mendengar pancaran iman yang tebal dari ibuku. Ibu yang telah mengajarkan makna  لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. “Tiada daya dan upaya kecuali karena kehendak Allah”

Bahwa pada sejatinya memang manusia itu lemah. Tidak ada yang bisa manusia kerjakan kecuali atas pertolongan Allah. Bahkan kita tidak akan pernah bisa mengucapkan syukur kecuali karena telah Allah bantu kita untuk bersyukur.

 

Kita juga tidak mampu mengatur hati kita berprasangka baik kepada orang lain, maka dari itu kita harus meminta kepada Allah agar menggerakkan hati kita untuk berprasangka baik terhadap Allah dan sesama.

Kita tidak mampu merubah BOS untuk menaikkan gaji kita, memintalah kepada Allah. Hati BOS milik Allah. Allah Maha mampu. Mudah bagi Allah merubah hatinya. Mari mengharap hanya kepada Allah yang Maha Mampu, jangan sampai kita mengharap kepada selainNya.

 

Semoga Allah memudahkan kita untuk terus bersyukur dan mengkaruniakan kita jasad yang ringan untuk sujuda dan beribadah kepadaNya.

Jakarta, 16 Mei 2017 | 19 Sya’ban 1438 H