Syarat menjadi guru profesional

dalam Pola Pikir

Syarat Menjadi Guru Profesional

Diartikel syarat menjadi guru profesional ini saya ingin menuliskan sedikit unek-unek (opini) saya berkaitan dengan dunia guru.

Sebelumnya saya berterima kasih kepada para guru yang telah mengajarkan kepada saya ilmu atau pelajaran-pelajaran yang bisa saya manfaatkan untuk menjalani kehidupan di dunia ini.

Saya juga meminta maaf kepada seluruh guru yang membaca tulisan ini jika banyak kalimat atau ucapan yang kurang berkenan. Terutama kepada Persatuan Guru Republik Indonesia, Ikatan Guru Indonesia, Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia, dan Perkumpulan Guru Madrasah Penulis.

Tulisan ini bersifat opini yang diambil dari pengalaman saya pribadi ketika berada di dalam kelas. Jika ada yang memiliki opini lain terkait tulisan ini, bisa kita diskusikan melalui komentar.

Pengertian Guru

Kalau kita melihat pengertian guru di Wikipedia, bahwa guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal berstatus sarjana, dan telah memiliki ketetapan hukum yang sah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.

Untuk jenis-jenis guru, di Wikipedia disebutkan ada guru tetap & guru honorer. Saya tidak akan membahas dua jenis guru ini. Karena yang akan saya bahas di artikel “syarat menjadi guru profesional” ini adalah jenis guru yang sering diistilahkan dengan guru akademisi dan guru praktisi.

Mari kita bahas..

Guru Akademisi dan Guru Praktisi

Sederhananya, guru akademisi adalah guru yang memperhatikan penyampaian materi perkuliahan dengan teori-teori dan hasil riset para ahli. Ketika di kelas, biasanya mereka sering mengutip teori-teori atau perkataan para ahli dengan data-data yang tersusun rapi.

Sedangkan guru praktisi adalah guru yang lahir dari pengalaman setelah dia melaksanakan atau mempraktikkan ilmu yang dia pelajari. Misalnya adalah pemimpin sebuah perusahaan, pelaku usaha dan lain sebagainya.

Siapa yang lebih baik dan lebih profesional dari keduanya?

Baik, saya ingin cerita sedikit ya,

Saya pernah duduk dengan dosen akademisi dan dosen praktisi. Adapun dosen akademisi sangat banyak di kampus tempat saya belajar. Namun untuk dosen praktisi, seingat saya hanya dua orang saja.

Dosen praktisi ini jarang memberikan teori-teori dari para ahli, namun mereka sering memberikan tips-tips singkat yang sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam dunia pekerjaan. Salah satunya adalah dosen kami, JF Andry yang merupakan IT Trainer dari sebuah perusahaan IT di Jakarta.

Kalau ditanya, lebih asik mana dari kedua dosen ini? Maka saya akan menjawab bahwa duduk di kelas guru praktisi jauh lebih asik. Tapi mau tidak mau, sebagai seorang murid, kita juga butuh teori-teori yang disampaikan oleh guru akademisi.

Jadi gimana dong?

Gini, kita ambil jalan tengahnya deh. Bahwa syarat menjadi guru profesional adalah seorang akademisi yang juga merupakan praktisi. Bagaimana? Setuju?

Ini juga yang disebutkan oleh Nur Fitriana Sholikhah dalam website duniadosen.com. Judul artikelnya adalah Dosen Akademisi Itu Penting, Dosen Praktisi Melengkapi. Silahkan dibaca. Ini bagus.

Perjalanan Kisah Saya Menjadi Seorang Guru

Sebelumnya, saya merupakan seorang pencari rumput dan penggembala kambing di desa, atas karunia Allah sekarang menjadi seorang guru komputer dan guru membuat website di salah satu pesantren di Bekasi.

Saya dipercaya untuk mengajar SMA dan SMP di pesantren ini bukan karena saya mempunyai gelar sarjana. Buktinya sampai sekarang saya belum ditanya lulusan apa. Hehe..

Bagaimana saya bisa mengajar website di pesantren? Ceritanya pihak pesantren membutuhkan website. Lalu singkat cerita dia bertemu dengan saya dan saya sepakat untuk membuatkan website untuk pesantren tersebut.

Setelah saya membuat website untuk pesantren ini, mereka membaca presentasi yang saya sampaikan melalui tulisan-tulisan di website ini, mungkin mereka melihat bahwa sepertinya saya mampu untuk mengajarkan ilmu cara membuat dan mengelola website agar website itu ramai pengunjung.

Sebenarnya saya takut untuk mengajarkan ilmu ini kepada mereka. Saya takut kalau ilmu yang saja ajarkan ini justru membuat mereka sibuk dan lalai dari belajar ilmu agama.

Saya ingat dahulu salah satu teman saya yang belajar di pesantren pernah berkata, bahwa dia tidak ingin belajar agama sambil belajar yang lain. Karena apabila ada kesalahan didalam dia memberikan tausiah atau ceramah agama atau hukum tentang Islam dan seterusnya maka pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia bahkan yang lebih berat ada pertanggungjawaban di akhirat.

Tetapi pihak dari sekolah itu memang membutuhkan agar para siswanya mempunyai keahlian tentang website terutama membuat dan mengelola website itu.

Akhirnya dengan pertimbangan bahwa semoga ilmu tentang website ini bisa mereka gunakan untuk menyebarkan ilmu yang bermanfaat untuk masyarakat, saya memutuskan untuk menyanggupi mengajar hal-hal yang berkaitan dengan website.

Nah, jika Anda perhatikan, bahwa untuk menjadi guru itu tidak melulu kuliah dijurusan keguruan. Bahkan terkadang sekolah-sekolah itu tidak melihat pendidikan kita. Selama kita mampu dan bisa mengerjakan apa yang mereka inginkan, itu cukup meyakinkan untuk mereka bahwa kita bisa mengajarkan kepada para siswanya tentang apa yang kita geluti.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita meyakinkan mereka bahwa kita bisa mengerjakan apa yang mereka inginkan.

Kalau yang saya lakukan adalah dengan membuat tulisan atau menampilkan portofolio melalui website.

Dengan seperti ini, orang-orang di luar sana akan melihat dan membaca bahwa kita mempunyai kemampuan pada bidang yang sering kita tulis.

Jika sudah seperti ini dan mereka sudah yakin dengan kemampuan kita, mereka tidak akan bertanya lagi background pendidikan kita.

Selama kita mampu untuk itu dan kita pun menunjukkan portofolio kita, maka mereka akan yakin bahwa kita mampu mengajarkan itu kepada para siswanya.

Contoh, jika teman-teman mempunyai suatu keahlian mengoperasikan photoshop. Kemudian temen-temen mempunyai karya yang karya itu dipublish melalui website dan disana temen-temen banyak menulis tips dan trik mengenai cara membuat gambar atau desain.

Bagi sekolah yang membutuhkan guru desain untuk para siswanya dan mereka menemukan website teman-teman, mereka tidak akan berpikir berulang kali untuk menjadikan teman-teman sebagai guru desain di sekolahnya.

Contoh lain, ketika Anda mempunyai satu keahlian menjahit baju. Lalu Anda senang berbagi, menuliskannya melalui website. Bagi orang-orang yang ingin belajar menjahit dan menemukan website Anda, mereka akan menghubungi Anda untuk menjadi murid Anda.

Lihatlah, ada 10rb-100rb orang yang mencari di google dengan kata kunci “menjahit baju” Anda bisa menjadi guru menjahit secara online dengan video bukan?

Atau jika kita lihat di Google Keyword Planner, banyak sekali orang yang ingin belajar bahasa. Lihat data di bawah ini:

Lihatlah, ada 100rb-1jt orang setiap bulannya yang mengetikkan “Belajar bahasa Inggris” di Google.

Bayangkan kalau mereka menemukan website Anda yang banyak berbagi tentang tips dan trik belajar bahasa inggris. Atau Anda juga bisa menjual video tutorial belajar bahasa inggris. Anda akan menjadi guru online yang profesional tanpa harus mengajar di kelas secara langsung.

Bukankah syarat menjadi guru profesional tidak harus di dalam kelas? Bukankah di taman ataupun secara online juga bisa menjadi seorang guru yang profesional?

Tulis komentar

Komentar